Lagi-lagi Telur Mengalami Kenaikan Harga, Apa Penyebabnya?

Advertisement

Lagi-lagi Telur Mengalami Kenaikan Harga, Apa Penyebabnya?

Kamis, 24 Januari 2019
Ilustrasi Telur via finroll com
KabarUang.com, Jakarta - Pemerintah membuka pintu impor jagung sebanyak 30 ribu ton pada tahun ini. Karena suplai jagung di Indonesia dinilai masih sangat kurang sehingga sering kali membuat harga di pasaran menjadi sangat mahal.

"Kalau harga mahal, itu berarti kurang jagungnya," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Selasa 22 Januari 2019 seperti dikutip dari viva co id

Menurut pendapat Darmin, seharusnya masyarakat bersyukur dengan adanya kebijakan impor ini. Karena, jika tidak impor jagung ia beranggapan harga jagung akan bisa mencapai Rp8.000 per kilogramnya.

Ia pun menyatakan, bahwa harga jagung yang rendah ini dibutuhkan untuk pakan ternak khususnya bagi peternak ayam petelur. Dibandingkan dengan peternak ayam pedaging yang memasok atau membeli pakan ternaknya melalui pabrik, yang penyuplainya juga sangat dijamin dan disimpan di gudang pabrik. 

"Tapi (ayam) petelur, kamu pernah pergi ke Blitar? Kecil-kecil, dia enggak punya gudang untuk menyimpan jagung. Jadi setiap dia beli mungkin untuk jagung sebulan, dia beli, dia campur macam-macam artinya dia enggak punya stok. Kalau harga naik, kena dia," kata dia seperti dikutip dari viva co id
Dengan itu, Darmin menekankan bahwa dengan melihat situasi Indonesia pada saat ini dapat diketahui bahwa tingginya harga jagung disebabkan oleh pemasokan yang kurang. Selain itu juga telur dan ayam dinilai sangat dibutuhkan untuk suplai gizi masyarakat Indonesia, yang ternyata semuanya jadi tertular mengalami kenaikan harga.

"Coba lihat di pinggir jalan, dia bikin nasi, pakai telur pakai kuah, pakai cabai, terus sayur dikit. Nah artinya jangan main-main sama telur. Itu akan memengaruhi betul gizi orang," kata dia seperti dikutip dari viva co id