Kenapa Pengusaha Makanan Dan Minuman Lebih Pilih Gula Impor

0
Ilustrasi Gula via hellosehat com
KabarUang.com, Jakarta – Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman  masih terbilang sangat sulit untuk digantikan ke gula lokal. Ini disebabkan karena adanya bakteri yang terdapat pada gula lokal selain itu juga suplainya masih tak teratur, itulah alasan mengapa  pengusaha mamin atau makanan dan minuman ini lebih memilih gula impor.

Agro Suyono selaku Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah  menjelaskan bahwa pengusaha mamin kelas kecil dan juga menengah masih membutuhkan impor gula rafinasi demi untuk keberlangsungan usaha mereka yang lancar.

Ia juga mengatakan bahwa ada tiga faktor alasan penting mengapa gula rafinasi dari impor sulit digantikan ke gula lokal bagi para industri mamin. 

“Yang pertama gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa,” ujar Suyono, dalam keterangannya, dikutip Senin 28 Januari 2019 seperti dikutip dari viva co id
Penjelasan secara rincinya adalah jika pengusaha mamin menggunakan gula lokal, contohnya saja saat makanan diekspor, seperti makanan dodol di kirim ke Timur Tengah, makanan itu akan berjamur dan kedaluwarsa karena adanya bakteri tersebut. Apalagi perjalanan ke uar negeri seperti contohnya perjalanan ke Abu Dhabi yang bisa mencapai 20 hari di tambah kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan tersebut lebih makin cepat berkembang.

Baca Juga  Kadin Meminta Unit Khusus Untuk Proyek KPBU di Kemenhub

“Kita biasa ekspor dodol itu ke Abu Dhabi, sampai di sana pasti jamuran kalau pakai gula lokal, karena di perjalanan bisa 20 hari, dengan kondisi kontainer panas. Jadi, memang gula lokal tidak cocok untuk dodol,” tuturnya seperti dikutip dari viva co id

Alasan kedua itu karena gula rafinasi selalu tersedia dari bulan Januari sampai bulan Desember. Dibandingkan dengan jika pengusaha mamin menggunakan gula lokal, harus menunggu cukup lama pada musim panen yang pasokannya tidak selalu tersedia.
Pengusaha mamin juga masih mengeluhkan masalah harga, dan inilah alasan ketiga. Suyono juga menjelaskan bahwa harga gula lokal bisa lebih mahal hingga mencapai Rp2.000 per kilogramnya dibandingkan dengan gula rafinasi.

Baca Juga  Mengenal Lebih Dalam Pasar Modal adalah

Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, tidak serta-merta menunjukkan bahwa para pengusaha anti produk dalam negeri. Melainkan karena pengusaha sangat siap dan sangat ingin membeli gula dalam negeri jika kualitasnya sudah sama dengan gula rafinasi dan juga ketersediaan barangnya bisa selalu terjaga.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia yaitu Agus Pakpahan menanggapi pernyataan beberapa industri memang sangat membutuhkan impor gula yang menjadi bahan baku utama dalam produksinya. Terkhusus untuk industri mamin, ia juga mengakui bahwa keperluan memakai gula impor dikarenakan harganya yang lebih terjangkau. Selain itu juga, gula impor yang memiliki tingkat International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis atau ICUMSA di kisaran 45 yang membuat tampilan mamin lebih menarik dan juga terjaga kualitasnya.

Baca Juga  Mobil Listrik? Anda Beruntung, Jika Punya Bisa Gratis Tambah Daya PLN

“Kalau ICUMSA gula rafinasi impor itu sekitar 45. Kalau gula lokal setelah diolah itu masih sekitar 300 ICUMSA. Raw sugar malah ICUMSA-nya bisa sampai 1.200,” tuturnya seperti dikutip dari viva co id

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here