Intip Upaya Pemerintah Demi Sejahterakan Petani

0
Ilustrasi via Twitter com

KabarUang.com, Jakarta – Kesejahteraan petani saat ini menjadi salah satu indikator ekonomi Indonesia dalam keadaan strategis. Pasalnya keberhasilan pemerintah dalam menjalankan programnya akan terlihat dari kesejahteraan petaninya terlebih pada sektor pertanian. Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret-Desember 2018 tingkat inflasi menunjukkan kinerja yang baik.

Pada bulan September 2018 pun presentase jumlah penduduk miskin di Indonesia sudah berkurang, jumlahnya hanya tinggal 9,66 persen sekitar 25,67 juta orang dan mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dibandingkan Maret 2018 yang jumlahnya 9,82 persen terhadap September tahun 2017 yang meningkat sebanyak 10,12 persen. Penduduk di pedesaan mengalami penurunan sebesar 0,10 persen poin dari yang asalnya 13,20 persen menjadi 13,10 persen.

Baca Juga  Debat Capres, Menteri Ekonomi Bakal Dampingi Jokowi

“Sektor pertanian merupakan penopang utama mata pencaharian penduduk pedesaan. Data tersebut menunjukkan bahwa program yang dijalankan pemerintah cukup efektif meningkatkan kesejahteraan,”ujar Kepala Pusat Data dan Informasi, Kementrian Pertanian Ketut Kariyasa menanggapi data yang baru saja diluncurkan BPS.

Ketut mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan jumlah penduduk miskin di pedesaan menurun. Hal pertama yaitu upah rill buruh tani mengalami kenaikan pada bulan September 2018. Kenaikan tersebut sebanyak 1,6 persen jika dibandingkan dengan bulan Maret 2018 sehingga daya buruh tani membaik terhadap kebutuhan pasar.

Yang kedua yaitu Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTIP) serta Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami peningkatan. Bulan September 2018 kenaikan NTUP terjadi sebesar 0,41 persen dibandingkan dengan Maret 2018 dari 111,58 menjadi 112,05. Sementara NTP naik sebesar 1,2 persen dibanding Maret 2018 dari 101,94 menjadi 103,17.

Baca Juga  Menteri Jonan Cabut Izin 70 Perusahaan Penyalur BBM

Selanjutnya ketiga ialah harga eceran komoditas pokok mengalami penurunan nasional pada periode Maret – September 2018. Hal ini terlihat dari harga beras yang turun sebesar 3,28 persen, minyak goreng turun 0,92 persen, daging sapi turun 0,74 persen, dan gula pasir turun 1,48 persen.

“Keempat inflasi umum juga cukup rendah yaitu selama periode Maret 2018 hingga September 2019 hanya 0,94 persen, sehingga daya beli rill masyarakat secara umum meningkat karena kenaikan pendapatan nominal tidak banyak tergerus oleh inflasi. Harga kebutuhan pokok menyebabkan inflasi bahan pangan juga rendah,”terang Ketut dilansir dari republika.co.id.

Program yang digunakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani ialah dengan cara meningkatkan produksi padi, jagung, holtikultura serta program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB). Selain program itu, pemerintah juga membuat program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA) yang berbasis pertanian.

Baca Juga  Kata BI Suku Bunga Acuan Hampir Berada Di Puncak

“Dengan paket bantuan 50 ekor ayam per RTM dan bantuan tanaman sayur-sayuran yang ditanam di lahan pekarangan, serta beberapa jenis tanaman tahunan dalam waktu enam bulan atau kurang dari satu tahun RTM sudah mampu memberikan pendapatan sekitar Rp 2,3 juta/RTM/bulan atau Rp 550 ribu/kap/bulan, dan besaran ini sudah di atas batas garis kemiskinan,”tutupnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here