Eka Tjipta Dari Penjual Biskuit Kini Jadi Orang Terkaya Ketiga RI

Advertisement

Eka Tjipta Dari Penjual Biskuit Kini Jadi Orang Terkaya Ketiga RI

Selasa, 29 Januari 2019
Ilustrasi Eka Tjipta via mataindonesia id
KabarUang.com, Jakarta - Eka Tjipta Widjaja selaku Bos Sinar Mas Group dikabarkan meninggal dunia pada hari Sabtu 26 Januari 2019 di usianya yang menginjak 98 tahun. Kabar duka ini membuat Indonesia kehilangan salah satu pebisnis besar, apalagi beliau tercatat masih berada di daftar sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia versi Majalah Forbes.
Dikutip dari Majalah Forbes, pada hari Senin 28 Januari 2019, bahwa rincian sebuah perjuangan untuk sampai di posisi tersebut tidak lah mudah. Perjalanan bisnisnya pun sangat berliku hingga akhirnya kekayaannya pada hari ini saja masih mencapai sekitar US$8,6 miliar atau setara dengan Rp120,7 triliun atau kurs Rp14.045 per dolar AS.
Eka lahir di Provinsi Fujian, China dengan nama Oei Ek Tjhong, ia resmi pindah ke Indonesia pada saat usianya tujuh tahun. Masa kariernya sebagai pengusaha pun dimulai dari menjual biskuit dan permen berkeliling menggunakan sepedanya di sekitar kota Makassar, Sulawesi, ketika usianya menginjak 15 tahun.

Pada tahun 1930-an, ia memulai sebuah perusahaan perdagangannya di Makassar, yang bergerak di bidang minyak kelapa sawit dan komoditas lainnya. Selama delapan dekade berikutnya, ia telah mampu membangun kerajaan bisnisnya selama periode yang meliputi era kolonial Belanda, pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, serta pada periode awal kemerdekaan dan pemerintahan oleh Presiden Ir. Soekarno dan juga Presiden Soeharto.

Kemudian pada era 1972-an, ia pun mulai mendiversifikasi keuntungan bisnisnya dengan mengakuisisi pabrik pulp dan juga kertas pertamanya. Kemudian pada tahun yang sama, bisnis real estat pun dilakukan berlanjut juga ke ekspansi  layanan keuangan pun dilakukannya pada 10 tahun kemudian.

Perjalanan bisnisnya pun bukan tanpa halangan ia melewatinya dengan sangat sulit dan penuh jalan yang berliku. Bisnis Eka sempat terhantam sampai jatuh terpuruk, dimulai pada masalah krisis keuangan yang terjadi di Asia pada tahun 1998. Asia Pulp & Paper yang terdaftar di New York pada 2001 yang gagal membayar utang sebesar US$14 miliar, hingga menyebabkan sengketa hukum yang berkepanjangan dengan investor internasional.

Dan saat ini ia sudah jaya dan kini ia membagikan bisnisnya kepada  anak-anak dan juga cucunya. Anak Eka, yaitu Franky Widjaja, mengelola raksasa kelapa sawit Golden Agri Resources, sementara itu putranya yang lain, yaitu Oei Hong Leong mengelola investasinya sendiri dari Singapura.