Kinerja Ekspor Menurun , Sebabkan Neraca Dagang Jeblok

0
Ilustrasi via ekbis.sindonews.com
KabarUang.com , Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan tak ingin bengkaknya impor minyak dan gas bumi (migas) selalu dijadikan kambing hitam penyebab defisit neraca perdagangan. Pasalnya, ia menilai defisit neraca perdagangan terjadi karena ekspor produk non migas yang belum optimal.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Oktober 2018 membengkak 31,78 persen secara tahunan menjadi US$2,9 miliar. Akibatnya, defisit migas membengkak hampir dua kali lipat dari US$718 juta pada Oktober 2017 menjadi US$1,43 miliar pada bulan yang sama tahun ini. 
Adapun defisit neraca perdagangan secara keseluruhan mencapai US$1,82 miliar. Padahal, Oktober 2017, neraca perdagangan masih surplus US$1 miliar.
“Pertanyaan saya begini, Jepang punya gas tidak? Punya minyak enggak? Enggak. Impor minyak dan gasnya jauh lebih lebih besar dari Indonesia tetapi ekspornya produk lainnya besar. Kita, mestinya begitu,” ujar Jonan usia menghadiri peluncuran Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) di Hotel Pullman Thamrin Jakarta, Kamis (15/11).
Jonan mengungkapkan membengkaknya impor migas Oktober terjadi karena harga minyak yang menanjak. Secara volume, impor migas Oktober lalu turun 4,47 persen menjadi 4,3 juta ton.
“Kalau harga minyak mentah naik itu harga produk Bahan Bakar Minyak (BBM) juga naik. Kita impor kira-kira mungkin sekitar 500 ribu sampai 600 ribu barel per hari, baik crude maupun produk. Ya pasti nilainya naik,” ujarnya.
Jonan mengingatkan minyak merupakan bahan produksi dalam perspektif yang lebih luas. Artinya, penggunaan minyak seharusnya bisa menghasilkan produk lain yang bisa diekspor.
Sejumlah negara yang mengandalkan pasokan migas dari impor seperti Jepang, Singapura, China, neraca perdagangannya bisa tetap sehat karena tingginya impor migas diimbangi oleh kemampuan ekspor yang tinggi.
“Kan impor minyak tidak untuk diminum. Ini sebagai alat produksi. Walaupun digunakan oleh konsumen tetapi untuk berkegiatan. Berkegiatan ini yang harus menghasilkan nilai ekspor yang lain,” ujarnya.
Data terakhir tentang Kinerja ekspor dan impor Indonesia pada Agustus 2018 mengalami penurunan. Nilai ekspor turun 2,90% menjadi US$15,82 miliar terhadap posisi Juli 2018 sebesar US$16,24 miliar. Sedangkan, nilai impor tercatat sebesar US$16,84 miliar atau turun 7,97% dibandingkan Juli 2018.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, penurunan kinerja ekspor disebabkan oleh anjloknya nilai ekspor di sektor migas (minyak dan gas). Ekspor migas terkontraksi 3,27% dari posisi Juli 2018.
“Demikian juga ekspor nonmigas turun 2,86%,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/9/2018).
Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Agustus 2018 mencapai US$120,10 miliar atau meningkat 10,39% dibanding periode yang sama tahun lalu. 
Untungnya, penurunan kinerja ekspor diikuti dengan penurunan kinerja impor. Nilai impor bahkan turun lebih dalam, yakni sebesar 7,97% menjadi US$16,84 miliar terhadap posisi Juli 2018.
Penurunan kinerja impor paling besar terjadi pada sektor nonmigas. Impor nonmigas turun 11,79% terhadap Juli 2018. Sedangkan, impor migas naik 14,5% dibandingkan Juli 2018.
Sehingga, neraca perdagangan Indonesia pada bulan lalu mencatatkan defisit US$1,02 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Januari-Agustus 2018 masih mengalami defisit US$4,09 miliar.
“Defisit US$1,02 miliar jauh lebih kecil dari bulan lalu. Kami berharap ke depan tidak lagi defisit, tetapi bisa mengalami surplus,” pungkasnya.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Baca Juga  iGrow Bersama Mitra Berdayakan 600 Petani Dengan 300 Hektar Ladang Lada di Bangka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here