Utang Pemerintah Bertambah? Berapa Jumlahnya?

0

Utang Pemerintah Bertambah? Berapa Jumlahnya?

Ilustrasi bertambahnya utang pemerintah via Liputan6.com

KabarUang.com, Jakarta – Pemerintahan pusat mengabarkan bahwa dalam catatan Kementrian Keuangan, utang pemerintah bertambah besar menjadi Rp 4.363,19 triliun. Catatan itu didapat dari data awal tahun 2018 hingga Agustus 2018. Pada Agustus 2017 lalu utang pemerintah naik menjadi Rp 537,4 triliun dari jumlah sebelumnya yaitu rp 3.835,79 triliun.

Dilansir dari detikfinance.com Kementrian Keuangan, Lucky Alfirman mengakatan “Posisi utang per akhir Agustus sejumlah Rp 4.363,19 triliun atau sebesar 30,3% dari PDB”. Itu disampaikan beliau ketika beliau berada di gedung Kemenkeu, Jakarta, Jumat (21/09/2018).

Selain itu, Kemenkeu menambahkan kepada CNBC.com “Presentase tersebut masih jauh di bawah 60% terhadap PDB sebagaimana ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara Nomor 17 tahun 2003”.

Beliau juga mengatakan “Berdasarkan sumber SBN, komposisi utang SBN dalam Valuta Asing naik ke angka 23,84% terhadap total utang dari sebelumnya sebesar 22% terhadap total utang.” Itulah yang beliau jelaskan saat ditemui CNBC.com.

Baca Juga  Pemerintah Siapkan Pungutan Sampah USD 10 untuk Turis Asing

Jumlah tersebut merupakan utang pemerintah dalam bentuk pinjaman. Pinjaman dalam negeri jumlahnya sebesar Rp 6,25 triliun sedangkan pinjaman luar negeri sebesar Rp 815,05. Selain itu terdapat Surat Berharga Negara (SBN) sejumlah Rp 3,542,89 triliun. Jumlah ini sudah mencakup 81,18% dari total utang yang naik pasca 2017 lalu.

Alasan dibalik kenaikan utang pemerintah mengalami kenaikan ialah karena faktor eksternal seperti menurunnya nilai rupiah terhadap mata uang negara asing. Selanjutnya beliau menambahkan dalam laporan yang ditulis CNBC.com “Terutama dolar AS, memengaruri besaran total outstanding utang untuk bulan Agustus. Apabila ditilik lebih mendetail, posisi utang untuk SBN berdenominasi rupiah lebih besar dari SBN valuta asing. Dengan demikian resiko fluktasi nilai rupiah terhadap posisi utang pemerintah dapat diminimalkan.”

Selain faktor eksternal, ada pula faktor internal yang menyebabkan jumlah utang pemerintah bertambah diantaranya karena strategi fornt loading. Seperti yang dikatan oleh Sri Mulyani selaku menteri keuangan bahwa pihaknya akan menjaga ranah APBN, defisit keuangan yang menurun, serta primary balance, pada akhir Agustus juga sudah menggambarkan kehati-hatian. Stategi front loading sendiri merupakan strategi yang dilakukan demi mengurangi jumlah utang pemerintah.

Baca Juga  Senilai USD1,2 Triliun China Keluarkan Demi Beli Produk AS

Namun, kabar gembiranya adalah hingga bulan Agustus 2018 ini realisasi APBN tercatat surplus pada keseimbangan primer. Sri mulyani mengatakan bahwa hal ini merupakan hal yang positif karena untuk keempat kalinya APBN mengalami keseimbangan primer positif. Surplus keseimbangan primer itu mencapai Rp 11,6 triliun.

Sedangkan untuk jumlah keseluruhan defisitnya seperti yang dilansir dari CNBC.com Sri Mulyani mengatakan “Thun yang sama defisitnya Rp 224,9 triliun atau 1,65% dari PDB. Defisit akhir Agustus 2018 ini hanya 1,02% dari PDB”.

Namun ada pula kabar bahwa tahun 2019 mendatang bahwa pemerintah masih akan mengambil utang untuk menambal defisit APBN. Hal ini dikarenakan anggaran belanja pemerintah jauh lebih besar dibanding dengan pemasukan. Selain itu, defisit juga menandakan bahwa pelaksanaan anggaran masih bersifat ekspansif kepedepannya seperti yang dilansir oleh detikfinance.com.

Baca Juga  196 Nelayan di Sidoarjo Hemat Rp 50 Ribu per Hari Sejak Pakai LPG

Lebih jelasnya pemerintah memiliki kemungkinan untuk mengambil utang sebesar Rp 359,12 triliun. Ini akan dilakukan dengan cara penerbitan surat berharga negara (SBN). Dengan ini defisit 1,84% terhadap PDB, pihaknya Suahasil mengatakan bahwa hal itu membuat defisit mengalami keseimbangan primer pada tahun depan dan menurun hingga Rp 21,7 triliun.

Pada tahun 2020 pemerintah menargetkan untuk tidak gali lubang tutup lubang dalam menjalankan APBN. Suhasil selaku Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) mengatakan bahwa hal itu tidak akan dilakukan lagi karena defisit anggaran semakin kecil.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here